Pasar soda kaustik Indonesia menyaksikan tren impor yang signifikan pada 2024, dengan pertumbuhan impor mencapai 71,92% dari 2023 ke 2024. Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) untuk periode 2020–2024 berada pada angka 54,04%. Lonjakan ini mencerminkan permintaan kuat dari sektor pulp dan kertas, sabun dan deterjen, serta kimia organik.
Pada Oktober 2024, KCC Glass Korea Selatan memulai operasi komersial di pabrik kaca datar Batang, Jawa Tengah, dengan kapasitas tahunan 440.000 ton. Manufaktur kaca dan aktivitas konstruksi hilir menambah tarikan inkremental terhadap konsumsi soda kaustik. Sementara itu, ekspansi smelter nikel dan proyek pemurnian alumina di negara ini terus menyerap butiran soda kaustik untuk ekstraksi logam dan perawatan permukaan.
Butiran soda kaustik disukai untuk aplikasi dosis padat di fasilitas industri Indonesia yang tersebar, di mana biaya freight dan kendala penanganan membuat larutan cair kurang layak. Dengan kapasitas chlor-alkali domestik yang tidak mampu mengikuti ekspansi hilir, ketergantungan impor tetap tinggi hingga akhir 2024.
Butuh butiran soda kaustik untuk operasi manufaktur atau pemurnian Anda? Kirimkan permintaan hari ini untuk harga cepat, volume fleksibel, dan opsi pengiriman yang andal.
